Selasa, 24 Agustus 2010

NORMAN EDWIN Dulu dan Kini, Catatan Sahabat Sang Alam.....

KOMPAS.com — Saat banyak orang di Tanah Air, baik secara sendiri-sendiri maupun atas nama kelompok tertentu, berkoar-koar mengumandangkan rencana pendakiannya ke Tujuh Puncak Tertinggi Dunia atau The Seven Summit, rasanya ada yang "hilang", bahkan hambar lantaran tidak menyebut sama sekali nama Norman Edwin. Pasalnya, memang, kali pertama ide ini muncul di Indonesia datang dari dia, tepat di tengah ingar-bingarnya gairah pendakian gunung salju di kalangan pencinta atau klub pendaki gunung di seluruh penjuru Tanah Air.
Membaca buku ini, lembaran-lembaran ingatan tentang ujung pangkal perintisan ide "Tujuh Puncak Dunia" itu serasa kembali melintas, yaitu ingatan tentang Norman dan proyek pendakian Tujuh Puncak Dunia-nya ini. Dari buku setebal 423 halaman inilah, Rudi Badil, sang editor, meletakkan porsi "Tujuh Puncak Benua" sebagai awal pembuka ingatan kita akan sosok Norman dan proyek prestisius tersebut.
Tanpa maksud jumawa, mungkin saja, Badil di buku ini mau menegaskan bahwa rasanya tidak fair melupakan sosok Norman dan Mapala UI—sebagai bendera yang menaungi ide Norman merancang program ekspedisi pendakian puncak gunung-gunung bersalju abadi itu—yang sudah lebih dulu menancapkan tonggak sejarah pendakian Tujuh Puncak Benua. Selain itu, kebetulan saat itu Norman dan Mapala UI sudah mengantongi lima dari tujuh puncak gunung di tujuh benua yang diincarnya, yaitu Carstenz Pyramid (Australiasia), Kilimanjaro (Afrika), McKinley (Amerika), Elbrus (puncak tertinggi Eropa), dan Aconcagua (Amerika Selatan).

Adalah perkenalan Norman dan Pat Morrow pada 1990 yang kemudian menyuntik Norman dan teman-teman Mapala UI-nya untuk mengibarkan ide Puncak Tujuh Benua tersebut di Indonesia. Pat, pendaki kawakan asal Kanada yang pada 1985 telah menuntaskan puncak ketujuh dari Tujuh Puncak Dunia-nya di Carstenz Pyramid, Papua, itu memompa semangat Norman sebagai orang pertama Indonesia yang menjadi the seven summiteer.
Selanjutnya, ujung pangkal ide Tujuh Puncak Benua itu pun terurai di buku ini. Semua dimulai dari keberhasilan-keberhasilan cemerlang pendakian di Carstenz Pyramid, Kilimanjaro, McKinley, Elbrus, hingga kegagalan dan musibah di Aconcagua, gunung tertinggi di benua Amerika Selatan yang akhirnya merenggut nyawa Norman sendiri dan sahabatnya, Didiek Samsu.

Sekarang ini, setelah Pat Morrow, memang baru dua orang lainnya yang berhak menyandang gelar the seven summiteers, yaitu Reinhold Messner (Italia) dan Oswald Ohl (AS). Di Indonesia, kendati telah dibayar mahal oleh keberhasilan "pendakian ulang" Mapala UI ke Puncak Aconcagua setahun setelah tewasnya Norman di gunung itu, gairah pendakian Tujuh Puncak Benua di Indonesia pun perlahan seakan meredup. Masih dua gunung lagi yang harusnya digenapkan Norman dan Mapala UI untuk mencapai gelar itu, yaitu Vinsson Massif (Benua Antartika) dan Gunung Everest ( Asia).
Meredup atau tertunda? Kenyataannya, lama setelah ide, cita-cita, dan semangat Norman yang seolah lenyap ditelan kepergiannya itu kembali menjadi hiruk pikuk. Hiruk pikuk yang kadang timbul, kadang pula tenggelam. Perlombaan menduduki urutan berikutnya sebagai pendaki Puncak Tujuh Benua pertama di Indonesia itu pun masih menjadi "rahasia" yang belum terjawab dan menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Ya, hal itu khususnya untuk kelompok Mapala UI, yang secara resmi menjalankan maksud mendiang Norman ini sebagai proyek Universitas Indonesia yang didukung penuh oleh rektornya sendiri. Sementara itu, umumnya, Tujuh Puncak Dunia menjadi "proyek besar" atas nama Indonesia.

Tak ada habisnya
Pada kurun waktu antara 1976 dan 1992, nama Norman Edwin memang sangat identik dengan pendaki gunung, pengarung jeram, penelusur gua, pengembara ilmiah, pelayar lautan, dan penulis kisah-kisah perjalanan andal yang sudah punya “umat” tersendiri di Indonesia. Begitulah Rudi Badil, editor buku ini, menuliskannya.
Kini, setelah hampir 20 tahun sepeninggalannya, nama itu ternyata masih lekat dalam ingatan sebagian di antara kita yang pernah mengenalnya. Oh, apakah hanya untuk generasi tua yang pantas mengenal baik Norman?
Jelas saja, tidak. Buat mereka yang ingin dan perlu mengenalnya lagi saat ini pun dianjurkan mengenal Norman karena buku ini kembali mengetengahkan 64 tulisan Norman tentang pengembaraannya di alam bebas, ihwal persahabatannya dengan banyak manusia di dataran rendah, tinggi, dan puncak, serta perut bumi yang terangkum dengan apik.
Asyiknya, di buku ini tak cuma dituliskan semua keberhasilan disertai kegirangan Norman di setiap petualangannya, tetapi juga kegentaran dan kesulitan di tiap jengkal penjelajahannya di hutan-hutan di Sulawesi, mengarungi derasnya Sungai Kapuas di Kalimantan, menyusup ke perut bumi di Luwong Ombo, mendaki puncak-puncak salju dunia di Kilimanjaro atau McKinley, sampai melayari Lautan Hindia di atas kapal pinisi Ammana Gappa. Semua ditulis dengan jernih, rinci, dan juga menyentuh.
Boleh jadi, bagi yang belum sempat mengenal Norman, membaca buku ini akan membuat mereka tercengang. Manusia "ajaib" macam apa Norman ini? Semua yang berbau kegiatan alam bebas (outdoor activity) dilahapnya bukan semata sebagai penggiat, melainkan ahli.
Ibarat di dunia persilatan, Norman adalah pendekar kampiun. Ia pelaku, tapi juga pionir yang ahli. Bedanya dengan pendekar lain, Norman tak pernah pelit mengisahkan ilmunya kepada para penggemarnya di dunia persilatan itu; dunia kegiatan alam bebas Indonesia.
Buku ini akan menjelaskan betapa Norman memang bukan sekedar suka-suka untuk menggeluti hobi mendaki gunung, melainkan menjadi pendaki yang memang betul-betul menguasai ilmu pendakiannya secara ilmiah. Untuk membuktikan itu, Norman mampu membagikan ilmu dan pengalamannya itu dengan enak dan nikmat di media massa tempatnya berkarya, mulai dari majalah remaja seperti Hai atau Gadis, majalah perjalanan dan lingkungan seperti Mutiara dan Suara Alam, sampai akhirnya berkarier sebagai wartawan di harian Kompas.
Di jeram-jeram sungai, pengalaman Norman sebagai kapten perahu yang andal dibuktikan ketika ia dan rekan-rekan rafters-nya atau pengarung jeram mengarungi Sungai Kayan dan Kapuas (Kalimantan), Alas dan Tripa (Aceh), serta Progo dan Serayu (Yogyakarta). Norman membuktikan, dia memang pengarung yang ahli, tetapi tetap rendah hati dan merasa bukan manusia yang tak punya rasa takut lantaran dua karibnya tewas saat menaklukkan jeram-jeram Sungai Alas bersamanya pada 1986. Dengan jujur, keberhasilannya melampaui sungai-sungai ganas itu tak membuatnya alpa untuk menuliskan ketakutannya di setiap perjalanan yang dia temui.

Di dalam perut bumi, Norman juga pionir. Pada periode awal 1980-an, Norman sudah menggantung-gantung di tali untuk menelusuri 150 meter kedalaman Luweng (gua) Ombo, Pegunungan Sewu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Norman pula yang ikut membidani berdirinya persatuan caving dan speleologi Indonesia, Specavina, dan klub speleologi Gharbabhumi. Perjalanannya menelusup ke Luweng Ombo bersama para anggota kedua klub itu menjadikan ekspedisi Norman cs dianggap ekspedisi pertama orang Indonesia di dalam perut bumi Indonesia. Tonggak sejarah caving atau penelusuran gua pun dimulai oleh Norman.
Memang, tak ada habisnya berbicara soal Norman dan petualangannya, apalagi "kegilaannya" menjelajah itu semakin manjadi-jadi setelah ia menjadi wartawan harian Kompas. Tempat-tempat sunyi di ujung-ujung terluar wilayah jangkauan manusia pun dijelajahinya dan tanpa luput dilaporkannya dalam bentuk tulisan-tulisan yang menarik, termasuk bagaimana kisah-kisah heroiknya di beberapa perjalanan berlayarnya (sailing) di lautan dan samudra luas di dunia.

Andai (Norman) masih ada

Norman tewas hanya beberapa meter menjelang puncak Gunung Aconcagua, 21 Maret 1992. Puncak kelima yang diharapkan Norman menjadi puncak kelima dari Tujuh Puncak Benua, obsesinya.
Norman tewas bersama rekannya, Didiek Samsu, saat dunia pendakian gunung di Indonesia tengah ingar-bingarnya menorehkan banyak prestasi, mulai dari kalangan anak muda bercelana abu-abu alias SMA, pencinta alam tingkat mahasiswa, sampai klub-klub pendaki gunung yang tak terhitung jumlahnya.
Lalu kini, setelah hampir 20 tahun Norman tiada, apa manfaatnya "anak-anak sekarang" perlu mengenal Norman, apalagi hanya lewat sebuah buku?
Kiranya, inilah bagian yang tak kalah pentingnya dari semua tulisan di buku ini. Bahwa Norman adalah sosok petualangan di "zaman doeloe", memang betul. Tetapi, tentu tidak ada salahnya menyebut Norman juga sebagai seorang "guru" masa kini yang mau menurunkan ilmunya karena ilmu itu masih bisa dimanfaatkan sampai sekarang.
Inilah relevansinya buku ini diterbitkan pada zaman 2000-an. Zaman di mana Facebook dan Twitter atau blog, serta semua tren jejaring internet yang sedang up to date ini, tak dikenal baik oleh Norman.
Di buku inilah, Badil membuat Norman bisa menjadi teman dekat, senior, sekaligus guru yang mau berbagi ilmunya tentang tentang ekspedisi. Bahkan, makna harfiah tentang ekspedisi itu dikupas lagi di buku ini lantaran maknanya banyak disalahkaprahkan.
Apakah pendakian ke puncak Gunung Semeru sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa itu bisa disebut ekspedisi? Sejatinya, apa arti ekspedisi? Apakah negeri yang bernama Indonesia ini sekarang semakin mudah dijangkau sehingga yang disebut dengan "ekspedisi" itu semakin kurang berarti?
Pelajaran lain yang dipetik di buku ini adalah, Norman tak pernah mengganggap enteng gunung-gunung mana pun di Tanah Airnya. Ya, sekalipun itu Gunung Gede atau Pangrango yang kerap hanya dijadikan area "piknik" sejenak kepenatan anak-anak pencinta alam di Jakarta, Bogor, atau Bandung yang dekat dengan gunung itu.
Pada tahun masa-masa Norman hidup, ternyata kawasan gunung ini banyak memakan korban, terutama mereka yang mengaku-aku pencinta alam atau pendaki gunung yang "sok jago" karena menyepelekan persiapan mendakinya di kedua gunung itu. Di buku inilah, cerita pengalaman Norman menjadi anggota search and rescue (SAR) dan juga "bos" dalam pencarian korban tewas Hengky dan Robby, mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, di gunung Gede-Pangrango dan tujuh siswa STM Pembangunan Jakarta di Gunung Salak, sangat relevan dengan dunia pencinta alam dan pendakian saat ini. Bukankah masih terekam jelas di benak kita, bagaimana gunung-gunung yang kerap dianggap "ecek-ecek" seperti Gede-Pangrango, Salak, Ceremai, atau Gunung Slamet kerap masih memakan korban sejak hampir 20 tahun lalu Norman pergi?
Tingginya gunung, derasnya jeram sungai, gua-gua yang gelap pekat atau dahsyatnya gelombang laut yang pernah dijelajahi Norman adalah bentukan alam yang tetap selalu dekat dengan mereka yang sampai saat ini mengaku sebagai pencinta alam atau penjelajah alam bebas. Kejuaran panjat dinding di kampus-kampus atau sekolah yang kini semakin digilai dan banyak mendatangkan sponsor lebih sarat sorak sorai penonton ketimbang ekspedisi penjelajahan ilmiah seperti yang kerap dilakukan Norman dan teman-temannya dahulu di buku ini.

Itulah pesan akhir buku ini, Norman Edwin; Catatan Sahabat Sang Alam. Mengingat Norman, rasanya sedang mengingat sesosok teman, sahabat, senior, juga guru, yang tak pernah jemu membagi rahasianya menjelajahi alam bebas Indonesia dan dunia lain yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia.

Ingat Norman, ingat selalu akan "pekerjaan rumahnya", Puncak Tujuh Benua yang belum juga tuntas. Mengenal Norman seolah mengenal satu arahan bahwa Indonesia masih begitu luas untuk dijelajahi dan perlu untuk menambah rasa nasionalisme anak-anak muda masa kini yang rasa-rasanya semakin jauh dari alam Indonesia sebagai tanah airnya sendiri. Dan semua itu, tentu demi kecintaan anak-anak Indonesia akan tanah airnya sendiri, tanah air Indonesia.
READ MORE - NORMAN EDWIN Dulu dan Kini, Catatan Sahabat Sang Alam.....

Minggu, 22 Agustus 2010

Antara Berkah atau Bencana

Mencairnya es dikutub memunculkan berbagai spekulasi, antara berkah ataukah bencana. Bagaimana tidak terkelupasnya lapisan es di Kutub Utara (Arktik) telah mengungkap kekayaan tambang minyak, gas, dan mineral yang sangat berharga.

Kini belahan bumi di utara itu ibarat tanah perawan yang sangat menggoda. Ratusan miliar dolar kekayaan alam bahkan lebih yang mulai tercium dari balik lapisan esnya yang terus menipis dan menyempit telah membuat banyak negara tak kuasa menahan liurnya.

“DAN MUNCULLAH SPESIES BARU ‘BUAYA RAKUS bin SERAKAH’ DI PUCUK BUMI UTARA ITU”.

1. perusahaan Minyak
Kemarin perusahaan minyak harus berpikir berkali-kali sebelum menanam rig di lepas pantai Laut Barents yang beku, kini mereka malah bisa menjelajah lebih jauh ke utara. Mereka bersorak menjadi 'gila' oleh ramalan Badan Survei Geologi Amerika Serikat yang pernah menyebut harta karun berupa seperempat cadangan minyak dan gas bumi ada di sana.

2. perusahaan Tambang
Selain temuan-temuan sampel dasar laut yang mengindikasikan kekayaan migas mulai bersemi, namun ditemukan pula sample yang paling spektakuler (intan 2,4 karat) oleh Perusahaan tambang Kanada, Hudson Resources dekat Kangerlussuaq, Greenland. Batu berharga ini seakan membuka jalan bagi puluhan perusahaan tambang lainnya untuk berbondong-bondong sambil tersenyum datang ke pulau yang 81 persen wilayah es-nya terus berkurang dari tahun ke tahun itu. Tidak hanya itu saja yang dicari oleh perusahaan-perusahaan, mereka juga mengincar emas, seng, timah, perak, zirkon, dan mineral lainnya yang ada dalam tabel unsur kimia buku pelajaran SMA. Maklumlah buaya gitu loh. Tahun lalu saja, penguasa setempat menerbitkan 78 izin eksplorasi mineral untuk 30 perusahaan.

3. perusahaan Pelayaran
Mencair dan menipisnya lapisan es kutub juga membuka kotak harta lainnya seperti rute pintas pelayaran. Para perusahaan operator kapal kini bisa bersorak dan tertawa karena untuk jalur Tokyo-London, misalnya, mereka tidak perlu lagi memutar seperti biasanya. Es yang mencair membuat mereka bisa mengambil jalan yang lebih pendek 40 persen. Wow….luar binasa...

4. Nelayan
Tak ketinggalan pula para penangkap ikan keciprat berkah alam. Para nelayan juga akan menengadahkan tangan dengan terbukanya daerah tangkapan ikan salmon dan ikan komersial lainnya yang baru.

Eits tunggu dulu ternyata masih ada satu lagi. Kota pelabuhan macam Thule di Greenland pun ikut berdandan menyambut semakin banyaknya kapal dan pendatang yang akan singgah. "Greenland telah menjadi Klondike (tambang emas di Alaska) modern," kata seorang pilot pesawat carteran tentang perubahan yang dilihatnya dari udara dalam lima tahun terakhir.

Kalau Greenland berbenah, Hammerfest di Norwegia justru semakin ramai oleh pendatang. Kota paling utara di Bumi itu mulai diperhitungkan para insinyur muda. Mereka datang dari kota lain di Norwegia, Finlandia, Rusia, Amerika Utara, dan Asia menuju Snohvit (atau dalam bahasa Inggris berarti Salju Putih), sebuah terminal raksasa untuk penyulingan dan pengapalan gas alam dari Laut Barents.

Di tempat itu pula Institut Kutub Norwegia mengungkapkan bahwa bakal lebih banyak lagi perusahaan yang akan datang untuk berinvestasi. "Berkali-kali mereka bertanya kepada kami tentang kelayakan menambang lebih ke utara lagi dari Laut Barents, bahkan dari Spitsbergen di Svalbard," kata Jan-Gunnar Winther, Direktur Institut.

Manusia memang tetap manusia dan tak lebih dari binatang. Ketika beruang kutub menggelepar karena habitat esnya tergerus, mereka tetap berusaha mencari keuntungan. Mereka bahkan tidak peduli kalau es yang mencair juga bisa berarti bencana bagi manusia di belahan dunia yang lain.

Tak pernah kutemui hewan semisal kera mengumpulkan buah untuk persiapan hidup selama 10 tahun dan tak pernah kutemui seekor singa membunuh semua hewan untuk keperluan bertahan hidup sampai ia tua. Namun yang mengherankan seekor anak manusia mengumpulkan keperluan hidup sampai 7 turunan.
Mungkin singa tahu bahwa ketika ia melahap semua maka alam tak lagi bersiklus (RANTAI MAKANAN) atau mungkin kera tahu bahwa buah takkan jadi pohon kalo diambil semua. Tapi yang tidak aku tahu mengapa manusia yang notabene bersekolah dan memiliki akal begitu tersenyum serakah….

Mencairnya es dikutub sertamerta bukanlah anugerah tetapi bencana yang tidak lama datang menghampiri. Es di kutub merupakan penyejuk bumi, penyejuk lautan. Kilauan putih es yang dulu begitu kokoh ibarat cermin yang memantulkan sinar matahari. Kini bumi kehilangan penyejuk udara seperti yang disebut oleh ilmuan cuaca. Makin sedikit es di sana, makin banyak air gelap di sana untuk menyerap radiasi sinar matahari yang hangat. Apabila terjadi perbedaan tekanan yang ekstrim antara darat dan laut maka akan terbentuk pergerakan udara (disebut angin) yang kuat. Mirip-mirip angin topan. Ingat teori terbentuknya angin darat dan angin laut???

Tak hanya itu bencana yang lain masih berbondong-bondong…(bersambung)


READ MORE - Antara Berkah atau Bencana

Sabtu, 21 Agustus 2010

WARNING warming

Es Kutub Utara Mencair...

Pertama kali terjadi setelah 125 ribu tahun, akhirnya es kutub utara mencair, foto satelit daerah kutub utara menunjukkan jalur Barat Laut dan Timur Laut di kutub utara terbuka secara bersamaan minggu lalu, ini adalah pertama kalinya manusia dapat berlayar mengelilingi kutub utara tanpa hambatan sama sekali, namun hal ini berarti proses pemanasan global terjadi lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Ilmuan dari universitas Bremen Jerman mempublikasikan sejumlah foto yang diambil dari satelit milik NASA yang menunjukkan jalur barat laut telah terbuka, sementara bongkahan es terakhir yang selama ini menutupi jalur yang menembus laut Laptev-Siberia mengarah ke Rusia juga telah terbuka, sementara bongkahan es terakhir yang selama ini menutupi jalur yang menembus laut Laptev-Siberia mengarah ke Rusia juga telah mencair. Berita tentang hal ini juga dimuat di harian Independent Inggris 31 Agustus yang lalu.

Para ilmuan asal Amerika memperkirakan jika pemanasan global tetap terjadi maka dalam tempo 5 tahun musim panas di Kutub utara bakal tidak ada es sama sekali!, perkiraan seperti ini bisa muncul karena jumlah lapisan es yang telah mencari hingga saat ini seharusnya baru akan terjadi pada tahun 2050 mendatang.

Pada tahun 2005 jalur Timur Laut pernah sekali terbuka, tetapi jalur Barat Laut waktu itu tetap tertutup, dan tahun 2006 keadaannya berbalik, tetapi pada tahun ini kedua jalur tersebut terbuka secara bersamaan. Pihak yang paling mendambakan terjadinya hal ini adalah perusahaan pelayaran, sebab dengan terbukanya kedua jalur ini akan dapat memperpendek jarak tempuh pelayaran sebanyak ribuan mil.

Terbukanya jalur ini memperpendek jarak pelayaran antara Jerman dan Jepang sebanyak 4.000 mil dan sudah ada perusahaan pelayaran yang bersiap-siap untuk membuka jalur pelayaran melalui rute ini tahun depan.

Dan apabila Suatu saat nanti ketika bumi penuh bencana alam karena efek pemanasan global ini, sebegitu pentingkah harta yg sekarang kita kumpulkan dengan cara yang tidak baik untuk bumi kita ini ??? Dan seberapa jauh ilmu sains yang kita tuntut mampu menyelamatkan bumi…atau jangan sampai ilmu hanya kita tuntut untuk harta (pekerjaan) yang tidak mampu menyelamatkan bumi…

Lalu seberapa penting es di kutub, mempengaruhi kehidupan..??? (bersambung)

READ MORE - WARNING warming